The White Rose Mindset: Mengubah Perspektif Kita Melihat Makna
Berbicara tentang "makna", membawa sudut pandang kita ke petualangan berbagai arti. That's right?
Seperti yang sudah kita tahu, kita kenal bahkan sudah terdengar sangat familiar dengan kata "makna." Realitanya, tidak sesederhana itu.
Kenapa?
Karena semakin kita menggali banyak peluang informasi, semakin kita menelaah banyak kemungkinan-kemungkinan lain. Semakin luas pula, kata "makna"di sini. Sesederhana peluang memunculkan makna yang belakangan ini aku sadari. Sederhana karena, aku masih menjadi manusia yang tengah kalang kabut tak karuan. Sama seperti manusia lainnya, namun entah tiba-tiba terbesit tindakan apresiasi atas kekaguman setangkai mawar yang masih menguncup indah dengan warna putih yang mulai menampakkan diri sebagai penyempurna nya. Loh, lalu apa keterkaitan antara mawar vs kita yang melihatnya?
Jadi gini, manteman.
Di hari pertama, aku memberanikan diri menghalau rasa malas untuk sekadar melakukan aktivitas "siram" tanaman-tanaman hijau di depan rumah. Tanaman yang mungkin sangat antusias melihat ku membawa banyaknya debit air untuk di salurkan. Andai nih ya, mata mereka bisa nampak oleh mata kita sebagai manusia. Mungkin, akan tergambar jelas kebahagiaan mereka dengan momen ini.
Oke, sebelum terlalu jauh..
Teman-teman sudah tau maksud dari kata 'makna.' Klo belum, atau terdengar terlalu asing ayo kita bedah bersama. Jadi, makna ialah arti atau bisa di sebut juga sebagai maksud dari sesuatu. Nah, setelah kita sama-sama paham maksud dari kata "makna" maka dengan mudah kita bisa menangkap makna dari berbagai sudut termasuk dari se-absurd tangkai mawar putih satu ini.
Aku baru sadar makna terselubung dari mawar yang mulai mekar dari kuncupnya satu hari ke depan. Satu hari ke depan, terjadi saat itu. Mawar itu nampak indah, bahkan yang sempat membuat ku takjub ialah kemampuan nya untuk tetap bertahan di posisi kering dan hampir rapuh kala itu. Tapi sangat di sayangkan, kala itu aku sebagai manusia tak memilih begitu. Bertahan, kuat dan berusaha tegar hingga percaya semua akan jauh lebih baik esok hari. Aku sempat menentang itu, hingga akhirnya aku paham satu hal dari setangkai mawar yang berhasil mekar sempurna.
Jika di analogi kan,
se-sederhana kegiatan kita "menyiram" tiap tanaman lain selain mawar putih. Baik itu dilakukan sore atau pagi hari, tanaman-tanaman itu kembali di beri nyawa untuk terus hidup oleh air yang kita berikan. Bahkan, hal ini berkaitan dengan salah satu pendapat dari seorang pengguna aplikasi tiktok. Beliau menghadirkan statement baru untuk orang-orang yang tengah putus asa dengan hidupnya sendiri. Intinya beliau menyampaikan pernyataan begini di salah satu postingan orang lain,
"Aku nggak tau siapa yang perlu membaca komenan ini, tapi saat kamu merasa hidup sedang kalang kabut, hilang arah, berantakan. Coba lakukan hal sederhana yang biasa kamu lakukan."
Jika, kita bisa menghadirkan sudut pandang bahwa sesimpel melakukan kegiatan yang enggan untuk di capai bisa menolong jiwa yang tengah enggan bertahan pula. That's right?
Because, mawar yang berhasil mekar sempurna di puji oleh banyak manusia itu dulu nya hanya sepohon bunga yang kehilangan harapan. Rapuh, kering hanya menyisakan kemungkinan paling cepat. Benar, kemungkinan mati lalu di ganti. Tapi, saat kita hadir membawakan setidaknya satu nyawa lewat tetesan air itu dia kembali memilih hidup. Bayangkan, jika tidak ada satu pun manusia yang ingat akan "nyawa" nya, dia tidak akan di titik memancarkan ke-anggunan putih dari kelopak yang tersusun rapih itu.
Jadi, buat siapapun yang tengah membaca ini.
Aku cuman mau bilang,
"Ambil jeda klo dunia seolah makin memaksa. Memaksa kuat, hebat, cepat. Gapapa, say 'no' untuk sementara waktu. Ada banyak warna atau ucapan 'terima kasih' dari berbagai aspek yang harus terus kita dengar dan lihat."

Komentar
Posting Komentar